7.11.2017

Korea Autumn November 2016 - Busan Day 1 (Haeundae Guesthouse, Gamcheon Culture Village, BIFF)


6 November 2016

Sebelum semakin lupa dengan detailnya, mari saya lanjutkan Dini Travel Series Goes to Korea ini. Okaay dari mana saya harus mulai? Umm hooiyaa night flight dari Kuala Lumpur menuju Busan menggunakan Air Asia X, yang pesawatnya lebih besar dengan 3 baris, dan saya kebagian duduk di baris tengah. Lama penerbangan sekitar 7 jam lebih. Woow penerbangan terlama yang pernah saya rasakan. Awalnya sempat galau bakal bosen di pesawat, apalagi Air Asia X yang walaupun lebih besar pesawatnya tapi tetep no entertainment seperti TV, dan hot meal. Tapi ternyata gak ngebosenin sama sekali, lha wong begitu di pesawat langsung tidur pulas selama 7 jam. hahaha. Ceritanya maksimalin istirahat biar bisa menjelajah Busan dengan full power. Paling kebangun bentar buat minum karena kering banget tenggorokan yaa selama tidur di pesawat. Trus menelan perbekalan Subway Sandwich *miss u so badly Subway*.


Muka masih ngantuk tapi semangat banget mau jejekin kaki di Korea
Thanks to kacamata yang bikin muka terselamatkan
Cerita sebelumnya : 1 Hari Transit di Kuala Lumpur

Tidak terasa hari sudah semakin terang, cahaya pagi mulai masuk dari jendela pesawat yang terbuka. Saya sudah mulai sadar dan mencoba bangun, tapi koq ya masih lemes ngantuk rasanya. Akhirnya pesawat sudah hampir mendarat, mulai terlihat pepohonan dengan daun semburat coklat, kuning, dan merah khas musim gugur yang cantik. Matapun jadi menyala, excited, langsung sadar, ya Allah alhamdulillah sudah sampai di Korea Selatan, negara yang dulu mungkin buat saya cuma mimpi bisa kesana, sudah suka film dan lagunya dari lamaaaak, tapi cuma bisa mupeng kalau melihat foto orang-orang yang kesana, dan sekarang saya disana. Aaaaak SUPER HAPPY >_<

Setelah mendarat dengan mulus Alhamdulillah, thanks for good flight Air Asia, kami pun segera mengantri imigrasi, sudah aman semua lalu lanjut mengambil bagasi, oke disini koper saya rusak retak errgh, urus minta surat lapor kerusakan bagasi. Etapi petugasnya gak ada yang bisa English -_- lalu dipanggillah atasannya, agak lama sih karena oper dari petugas satu ke petugas lain, menunggu lagi sampai akhirnya dapat juga suratnya.

Okay semua sudah keluar dari area dalam bandara, langsung mencari toileeet, ahaha 7 jam lebih di pesawat dan kami butuh toilet beneran. Canggih bok toilet di bandara Busan ini, banyak tombolnya, dan saya coba pencet satu-satu karena bingung pakenya gimana. Hahaha maaf norak.


Toilet canggih di bandara Busan

Lanjut langsung menuju convenient store di Bandara, beli T-Money untuk naik subway menuju hostel di daerah Haeundae Beach. Harganya  2500, plus top up  20.000. Okaay saatnya keluar Bandara yang sesungguhnya, langsung disambut hembusan angin semilir sejuk yang mengarah ke dingin, aaaak syenaaang. 


T Money

FYI Busan lebih hangat dari Seoul. Saat itu suhu di Busan sekitar 17-an derajat, dan itu enaak bangett, sejuk seperti di pegunungan. Celingak-celinguk mencari petunjuk arah ke subway, jadi keluar dari Bandara Gimhae ambil ke arah kanan yaa. Jalannya gak jauh koq, tapi karena sambil geret-geret koper jadi agak lumayaaan. Haha. Dan sepanjang jalan ada pohon-pohon cantik dengan daun kuning. Wuaaah mata berbinar-binar.

FYI lagi, kalo subway di Singapore itu travel friendly dengan eskalator dimana-mana, siap-siap kuatkan kaki di Korea karena dimana-mana tangga, yes manual by sikil hahaha. Dan 6 gadis manis manja ini pun harus naik turun tangga menggotong koper-koper buesar dan bueraaat, semangaaat!!! Dengan ngos-ngosan, untung dingin jadi gak keringetan, kamipun masuk ke dalam kereta. Berikut jalurnya :

Gimhae International Airport --> Sasang --> Haeundae Station (Exit 5)

Akhirnya sampai juga di Haeundae Station, dan kami disambut hujaaan. Makin adem brrr. Sudah gak kuat lewat tangga, kami memilih memakai Elevator. FYI, Elevator seharusnya digunakan untuk disable, elder, ibu hamil, atau pembawa baby dengan stroller. Jadilah kami berenam dengan koper-koper besar dan haraboji. Duhh orang korea itu baik banget yaa, liat diluar hujan dan kita kesulitan mengeluarkan payung, haraboji-nya berbaik hati memberikan payung lipatnya dong. Duuh Gamsahamnida haraboji 


Payung dari haraboji *kakek* yang baik hati
Gamsahamnida

Haeundae Guest House

Sambil kehujanan kita pun lari-larian menuju hostel, pokoknya keluar dari elevator jalan ke arah Pantai, sekitar 200 meter di kanan jalan, udah keliatan koq Haeundae Guest House, plangnya agak tinggi, tapi keliatan. Sepanjang jalan mata sudah berbinar-binar lhoo. Kenapa? Karenaaaa kita ngelewatin Skin Food Store, Daiso, toko kelontong lalalala.

4F Haeundae Guesthouse

Guest House-nya bertempat di lantai 4, tenang ada elevatornya koq. Begitu masuk, wuaaah bersih dan hangat. Langsung check in, Onni-nya well english loh, bahkan logatnya juga bagus. Karena masih pagi jadi belum bisa ke kamar, tapi bisa numpang mandi di kamar mandi umum. Kebetulan yaa belum mandi hihi, so kami bersih-bersih dulu deh. Kamar mandi cewek cowok terpisah, di kamar mandi ceweknya ada 3 shower room dan 2 toilet. Sudah ada sabun dan shampoonya juga, tapi agak sedikit terbuka *shy*, pemisahnya cuma gorden stengah badan dan gak rapet. Jongkok dikit juga keliatan deh hihi, tapi karena sama-sama cewek yaudah cuek aja. Untuk toiletnya dry toilet, asli tanpa bidet sama sekali. Oh why people, kenapa sih bisa cebokan tanpa air?? *cry*



Okay berhubung 6 cewek yang mandi aja rempong, apalagi dandan-nya. Akhirnya baru kelar menjelang siang, dan kamar kami sudah siap. Cuss taro koper dan barang-barang. Kamar kami model bunk bed isi 8, female only. Bersih, simple, nyaman, dan cukup luas. Ada kamar mandi di dalam, tapi sayangnya saat itu showernya airnya kecil dan gak bisa berenti. Trus washtafel-nya saluran airnya mengarah ke kamar mandi, bukan keluar. hahaha. But we love our room.


Our simple, warm, clean, & cozy room

Gamcheon Culture Village

Sudah kesiangan, mari kita menjelajah Busan. Lokasi pertama yang mau kita tuju adalah Gamcheon Culture Village, yaitu desa di sebuah bukit di Busan yang berwarna-warni, banyak mural, dan karya seni kontemporer yang menarik banget. Kalau pertama kali ke Busan saya sangat rekomen untuk main kesini. Siapkan waktu setidaknya 3 jam untuk menjelajah desa ini, karena sangat luas, cantik, dan instagramable banget.

Bagaimana cara ke Gamcheon Culture Village?

Haeundae St --> Seomyeon St --> Toseong St (Exit 6)

Dari exit 6, ambil jalan ke arah kanan jalan terus sampai ketemu perempatan pertama, belok ke kanan. Nanti akan terlihat Cancer Center Pusan National University Hospital, yup sudah benar brarti jalannya. Dari sana gunakan Bus no. 1-1 or 2-2, jangan lupa tap T-Money yaa. Busnya semacam bus kecil, supirnya lihai banget deh, karena jalan menuju Gamcheon Culture Village itu berkelak-kelok, menanjak dan belokan tajam. Haha untung pusing aku gak kumat. Sekitar 15 menit kita pun sudah bisa melihat Gamcheon Culture Village. Wuaaaa 💖💖


Woaah luas banget yaa dan cantiik

Desa warna-warni di daerah bukit
Jadi lumayaan jalannya

Tempatnya ramai pengunjung dari seluruh dunia, banyak juga orang Indonesia lho. Masuk kesini gratis, tapi kalau mau mengambil peta di information paling kena  2000 aja. Sebenernya bisa mengikuti petunjuk di peta untuk berkeliling disini, tapiiii sepertinya hawa dingin membuat otak sedikit beku, malah bingung euy baca peta, hahaha. Akhirnya kami berjalan-jalan berkeliling kemana kaki melangkah saja.


Butuh map, kesini aja. Only ₩ 2000 untuk peta dan petunjuk lengkapnya
ada pilihan dalam berbagai macam bahasa

Gamcheon Culture Village starting from here
 
Hiasan dinding ikan-ikan yang tetap cantik dan terawat
Please jangan corat-coret tembok apalagi di tempat wisata, itu norak yaa


Spot foto sayap is never fail haha

Gamcheon Culture Village ✅

Foto keluarga yang absurt hahaha


Ini spot foto paling populer kayaknya
antriannya sampe panjang buat foto disini

Pas ada rombongan dede2 unyu ini 💖💖
Si febie dg braninya minta ijin foto bareng, dan saya mau juga doong hihi

Hari sudah semakin sore, hembusan angin sudah semakin dingin dan membuat kami harus merapatkan jaket, ditambah perut sudah sangat lapar. Okay mari move on mencari tempat makan. Awalnya kami, lebih tepatnya saya terobsesi mau ke Gaemijip, sebuah restaurant seafood yang di mention di blog Diarysivika, tapi kami tersesat. Sudah keliling, tanya sana sini, tapi penduduk lokal tidak ada yang tau ataupun bisa berbahasa inggris. Plus kami tidak ada paket internet. Yassalam.

Busan International Film Festival (BIFF)

Setelah lelah karena lapar, capek, dingin, dan hari semakin gelap, akhirnya kami masuk ke jalur underground untuk mencari petunjuk ke BIFF (Busan International Film Festival). Ini bukan mau nonton film yaa, tapi merupakan surga street food di Busan, dan shopping street juga. Ikuti saja petunjuk jalan di subway, cukup mudah koq menemukannya.


Petunjuk ke BIFF Square exit 7

Tangga ke BIFF Square, yaak kalian di jalan yg benar


BIFF Square ✅

Langsung disambut wangi Gyeranppang yang menggugah perut-perut lapar kami. Gyeranppang adalah roti dengan isian telur utuh, bahan rotinya sendiri seperti pancake, kemudian roti hangat tersebut disiram dengan kuah mayo yang rasanya manis gurih mix dengan rasa jagung manis. Wuaaah enaaak banget, recommended. Harganya  2000 aja. Penjualnya salah satunya adalah mahasiswi asal Indonesia yang part time kalo malem menjual Gyeranppang ini. 


Gyeranppang, my fave

Sambil jalan kami ketemu penjual Hweori Gamja atau Kentang Tornado yang di goreng renyah dengan bumbu tabur yang gurih. Di Indonesia sendiri sudah ada jajanan ini, tapi mau jajal yang di Korea aslik. Enaaak renyah dan kentangnya geday banget, bumbunya saya lupa sih pesen bumbu apa, barbeque kayaknya. Harganya  2500, mayan yaak hampir 30 ribu. Rata-rata street food di Korea segitu-segitu deh harganya.


Hweori gamja, kriuk dan lembut

Lanjut jalan lagi dan ketemu penjual Chestnut, kacang besar coklat yang konon kabarnya khas dijual di musim gugur, di kukus dan dijual hangat-hangat. Harusnya sih kita makan hangat-hangat, tapi ntah kenapa saya dapat yang sudah anyep. Kulitnya yang coklat dikupas dulu, kacang dalamnya berwarna putih seperti beton *biji nangka rebus*, rasanya mirip juga ama beton. Harganya  3000.


Kacang Chesnut, kalo hangat2 pasti enak

Perut sudah mulai full tapi kita gigi masih terasa gatel, jadi kami pun beli jajan lagi, kali ini Hotteok. Yaitu kue bulat dengan bahan tepung dibentuk bulat, dengan isian brown sugar dan kacang-kacangan ditumbuk kasar (kacang tanah, kacang kuaci labu, kuaci bunga matahari dll), yang di-pan fried. Rasanya empuk, manis gula yang pas, renyah kacang, dan hangat. Yummooo *duh ences ini nulisnya*

Hotteok, my second fave

Okaay hari sudah semakin malam, cukup jajannya, waktunya balik ke penginapan. Hoiyaa saya tidak mencoba Teokpokki dan Gimbab disini, karena penjualnya biasanya juga menjual Sundae, yaitu sosis yang terbuat dari darah Babi/Sapi ^_^;. Okay skip.

Sebelum ke penginapan kami mampir ke Daiso dulu, yang dekat dengan Guest House kami. Duuh Daiso itu syurga shopping, walaupun tidak satu harga, tapi tetep murah meriah, dan lucu-lucuuuk. Seperti hand cream dan kutek cuma ₩ 1000 aja, mask sheet ₩ 500 - 3000 ajah, dll. Awas khilaf, jaga dompet baek-baek. Haha

Setelah dari Daiso, kami mampir ke toko kelontong, beli nasi instant, susu pisang yang famous ituu, dan persimmon! Autumn memang musimnya persimmon, ukurannya besar, orange cerah, renyah, dan manis. Beda banget ama kesemek yang ada di Indonesia. 


Banana Uyuu 💗 harganya ₩ 1200 aja

Sampai di guest house kami bersih-bersih, dan ternyata masih lapar. Makannya nasi instant di kasi air dikit trus dihangatkan di microwave biar pulen, mie instant, dan ikan asin sambal yang di bawa mami Utin. Buatan special mamanya Utin n Febie. Alhamdulillah nikmat, dan selesailah cerita hari pertama di Korea Selatan. Esok hari kami akan menjelajah Busan lagi dan malamnya mau lanjut ke Seoul. Yaaayyy!!


Masih lanjut makan nasi lagi haha
abaikan wajah2 lelah dan bengkak mendadak itu

Pengeluaran Busan Day 1st :






LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...